Slamet Susanto, The Jakarta Post, Yogyakarta | People | Wed, October 03 2012, 8:27 AM
Cinta Putih Ikang Marissa di Film Yang Kukuh dan Yang Runtuh.
Cinta Putih Ikang Marissa di Film Yang Kukuh dan Yang Runtuh.
Perusahaan Film Keluarga Ikang & Marissa, PT Rana Artha Mulia Film
Berlokasi di Medan, Sumatra Utara, Belanda, Produksi ke 2 Film Layar Lebar, Nominasi FFI 1990
Lagu "Hanya Satu Kamu": oleh Ayah Asuhku Ikang Fawzi
(Sumpah Janji Ayah Asuhku Ikang Fawzi untuk Ibu Asuhku Marissa Haque, saat Pacaran Dulu)
"Panggilan Jiwa" Lagu Fav Marissa Haque (Ikang F & Chandra D)
Ikang Fawzi & Chandra Darusman: Kompaknya Dua Anak Deplu Alumni UI (Universitas Indonesia/ILUNI), 1982
Senin, 25 Maret 2013
Rabu, 20 Maret 2013
Terimakasih Tribunnews.com yang Baik: Ayah Ikang Fawzi & Bunda Marissa Haque
Tribunnews.com - Kamis, 14 Maret 2013 11:41 WIB
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA
Makin banyak pasangan selebriti memutuskan berpisah setelah sekian lama berumahtangga tanpa gosip aneh-aneh.
Sebut saja contohnya Venna Melinda dan Ivan Fadilla, Wanda Hamidah dan Cyril Raoul Hakim dan Ira Wibowo dan Katon Bagaskara. Perpisahan pasangan-pasangan ini mengagetkan publik karena sebelumnya tak pernah terdengar kabar orang ketiga atau friksi rumah tangga lain.
Bagaimana dengan Marissa Haque dan Ikang Fawzi yang juga selama ini rumahtangganya juga cenderung steril dari gosip aneh-aneh? Ah, semoga mereka tetap langgeng dan tak mengikuti jejak mereka yang berpisah, seperti kekompakan mereka dalam berbagai acara publik.
Ahmad Zulfikar Fawzi populer dengan nama Ikang Fawzi, lahir di Jakarta, 23 Oktober 1959) menikah dengan Marissa Haque 12 April 1987 silam. Dari pernikahan itu, mereka dikaruniai dua orang anak yaitu Muliawati Fawzi dan Marsha Chikita Fawzi.
Seperti Tribunnews.com lansir dari Wikipedia, Marissa Grace Haque (lahir di Balikpapan, Kalimantan Timur, Indonesia, 15 Oktober 1962.
Karirnya lintas bidang, mulai dari model, aktris, sutradara dan produser film dan televisi, konsultan hukum, dosen tamu di berbagai universitas negeri dan swasta, dan seorang politikus di Indonesia.
Marissa memulai debutnya di dunia hiburan film lewat Kembang Semusim (1981), kemudian ia membintangi banyak judul film di era 80-an. Lewat film Tinggal Landas buat Kekasih, ia meraih penghargaan Pemeran Pendukung Wanita Terbaik di Festival Film Indonesia 1985 di Bandung. Marissa juga mendapatkan Aktris Terbaik atau Best Actress di Festival Film Asia Pasific ke 62 tahun 1987 di Taipei, Taiwan.
Karier politiknya langsung melesat ketika bergabung dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan terpilih sebagai anggota DPR-RI pada tahun 2004. Sebagai pendatang baru dikancah perpolitikan Indonesia, Marissa Haque yang saat itu masih bersekolah di Ohio, Amerika Serikat, Marissa berhasil muncul kepermukaan jagad politik Indonesia.
Keberhasilan mendulang suara Marissa diwilayah Jabar 2 sangat signifikan. Sebagai kader baru partai banteng bermoncong putih tersebut, Marissa berhasil mendapatkan suara terbanyak ke 5 di daerah pemilihan Jabar 2 (Kabupaten Bandung) melebihi jumlah suara yang berhasil diperoleh Taufik Kiemas suami dari mantan Presiden RI ke 5 Megawati Soekarnoputri.
Dalam pilkada Banten, 2006, ia menerima tawaran Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Sarikat Indonesia (PSI) untuk dicalonkan sebagai wakil gubernur Provinsi Banten. Marissa mendampingi Zulkiflimansyah sebagai kandidat wakil gubernur Provinsi Banten.
Duta Badak
Kegiatan lain Marissa adalah menjadi Duta Badak Jawa (Rhinoceros Sondaicus) yang populasinya tinggal 50-60 ekor diderah Ujung Kulon, Pandeglang, Provinsi Banten. Ia sangat aktif menyebarluaskan informasi pelestarian badak cula satu ini bersama lembaga dunia WWF.
Dari kegiatan penyelamatan badak itu, Marissa kemudian serius mempelajari seluk-beluk Llmu Hukum dan Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan Hidup di Program Doktor Pusat Studi Lingkungan atau PSL-IPB, Bogor.
Doktor Ilmu Sistem Lingkungan ini bersama alumni IPB lainnya dan beberapa wartawan Lingkungan Hidup Marissa kemudian turut mendirikan Yayasan Daun yang bergerak di dalam hal menyuarakan pentingnya menjaga keseimbangan dan kelestarian hidup dalam konsep sustainable development atau pembangunan berkelanjutan.
Marissa bersama Ikang Fawzi suaminya adalah sama sama alumni dari Program Magister Bisnis Administrasi ( MBA ) dari Pasca Sarjana FEB ( Fakultas Ekonomi Bisnis ) Universitas Gajah Mada, Yogjakarta pada bidang yang sama yaitu Strategic Management dengan fokus kepada Strategi Pemasaran Lembaga Keuangan Syariah Non Bank atau BMT ( Baitut Maal wa Tamwil). Sementara Ikang Fawzi berfokus kepada Strategi Pemasaran Properti-tainment.
Marissa telah diwisuda pada bulan October 2011 sebagai Magister Bisnis Administrasi (MBA) Pasca Sarjana FEB (Fakultas Ekonomi-Bisnis) - UGM (universitas Gajah Mada), Jakarta-Yogyakarta.[1] Bersama Ikang Fawzi suaminya yang mengambil bidang berbeda Strategic Management, Marissa mengambil jurusan Human Resource and Organizations. Lebih jauh, Marissa adalah alumni Fakultas Linguistik Terapan Bahasa Inggris Universitas Katolik Atmajaya, Jakarta.
Ia adalah seorang speech therapist (ahli kewicaraan) dengan kekhususan anak-anak tunarungu. Sebuah universitas di Jakarta mengajaknya membimbing para tunarungu dengan metode the American Sign Language. Dan lulusan dari Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Jakarta dengan jurusan Perdata.
Sangat Serius Bidang Akademik
Serius dalam bidang akademik membuat Marissa kini tertarik menjadi seorang dosen. Beberapa universitas swasta yang menawarkan untuk menjadi home base tempatnya membagi ilmu baik bidang Ekonomi Islam maupun Hukum Bisnis. Diantaranya (1). Universitas Muhammadiyah Bengkulu untuk Ilmu Ekonomi Islam maupun Hukum Bisnis dan Ilmu Ekonomi Islam (2) Universitas Sahid Jakarta untuk Ilmu Hukum Bisnis; (3) STAIT ( Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Terpadu ) Modern Sahid di Bogor untuk Ilmu Ekonomi Islam. Dan sekarang Marissa menjalani profesi baru sebagai dosen di IEF Usakti ( Islamic Economic and Finance Universitas Trisakti ) di kawasan Mega Kuningan, Jakarta Selatan.
Beberapa jaringan radio di Jakarta dan Kota bandung juga telah meminta Marissa untuk memiliki program siaran. Bila benar terjadi, maka Marissa akan menjadi orang kedua yang bergerak di ruang siaran radio setelah adik bungsunya Shahnaz Haque yang alumni Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, UI (Universitas Indonesia) berhasil terlebih dahulu terkenal di Radio Delta dalam program Indonesia Siesta berpusat di Jakarta dengan luas jaringan seluruh Indonesia.
Sumber:
http://www.tribunnews.com/2013/03/14/fot…
Terimakasih Tribunnews.com yang Baik: Ikang Fawzi & Marissa Haque
Rabu, 20 Februari 2013
Kelas Inspirasi Indonesia Mengajar bersama Chikita Fawzi: dalam Marissa Haque & Ikang Fawzi
Kelas Inspirasi
Di Tambora, Dela Tetapkan Mimpi Jadi Animator
Penulis : Alfiyyatur Rohmah | Rabu, 20 Februari 2013 | 10:37 WIB
VITALIS YOGI TRISNA
Chikita Fawzi, animator dari serial Upin Ipin memberikan kelas
inspirasi kepada siswa kelas lima dari Sekolah Dasar Negeri (SDN) Tanah
Sereal 03 Pagi, Jakarta Barat, Rabu (20/2/2013). Kelas inspirasi
merupakan inisiatif dari gerakan Indonesia Mengajar, sebanyak 596
pengajar yang terdiri dari pekerja profesional diterjunkan ke 58 SD
negeri di Jakarta. KOMPAS IMAGES/VITALIS YOGI TRISNA
TERKAIT:
"Aku emang suka menggambar dari dulu. Biasanya gambar orang, gunung, atau bunga," kata Dela sambil menggoreskan pensilnya di atas kertas.
Berbekal pensil dan kertas berwarna hijau, Dela menggambar seorang anak perempuan dengan menggunakan bandana. Saat ditanya apa cita-citanya ketika sudah dewasa, Dela ingin menjadi animator yang pintar menggambar.
Dela ingin tekun belajar menggambar meski di luar jam sekolah, Dela lebih banyak menghabiskan waktu dengan membantu berjualan ayahnya di pasar. Biasanya barang yang dijual berupa pakaian yang bisa digunakan dalam kegiatan sehari-hari seperti baju berbahan kaos.
Nama animator diketahuinya dari Kelas Inspirasi yang digelar oleh Indonesia Mengajar, hari ini. Dela diajarkan menggambar oleh salah satu animator film anak "Ipin Upin", Chikita Fawzi.
Di depan anak-anak SD itu pula, Chiki juga memperlihatkan berbagai macam hasil karyanya yang sudah berbentuk animasi.
"Menurutku siapapun orang bisa menjadi animator, asal mereka punya kemauan, mereka pasti bisa," kata putri dari artis Ikang Fawzi dan Marissa Haque itu.
Saat mengajar, Chiki juga memberikan motivasi kepada siswa kelas 5 yang menjadi anak didiknya. Dengan menggunakan sebuah gitar kecil, Chiki bernyanyi sambil bertanya mengenai cita-cita siswa jika sudah besar nanti.
Menanggapi nyanyian dan pertanyaan Chiki, banyak siswa yang menyebutkan berbagai macam cita-citanya jika sudah dewasa. Ada yang ingin menjadi guru, dokter, wartawan, insinyur mesin, dan lain-lain. Dalam kelas tersebut terlihat suasana keakraban dan semangat yang terpancar antara murid dan guru yang membagikan inspirasi kepada siswa.
Tertolong
Yuniarti, Kepala Sekolah SDN 03 Tanah Sereal juga menyambut baik program Kelas Inspirasi ini. Menurutnya, dengan adanya kegiatan seperti ini, anak-anak lebih tertolong untuk lebih mengetahui berbagai macam profesi yang bisa digeluti.
"Sebelumnya kan mereka tahu profesi atau cita-cita hanya dari buku. Dengan kegiatan ini anak-anak bisa lebih mengenal berprofesi yang mereka inginkan," kata Yuniarti.
Ia melanjutkan, anak juga mendapatkan informasi untuk mengetahui langkah-langkah yang harus dipersiapkan jika ingin menekuni suatu profesi. Dengan menghadirkan inspirator yang terjun langsung dengan profesinya, hal tersebut bisa memacu keinginan anak menjadi profesi-profesi tertentu yang sesuai minat dan bakatnya.
Berita terkait, baca : Kelas Inspirasi Indonesia Mengajar
Tak mau ketinggalan informasi seputar pendidikan dan beasiswa? Yuk follow Twitter @KompasEdu
Editor :
Caroline Damanik
Caroline Damanik
Kelas Inspirasi Indonesia Mengajar bersama Chikita Fawzi:
dalam Marissa Haque & Ikang Fawzi
Rabu, 03 Oktober 2012
Selasa, 04 September 2012
"Langkah Dua Artis Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) Marissa Haque dan Zumi Zola (Bupati Jambi)"
Selasa, 04 September 2012 , 15:52:00 WIB

Dua artis alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) Marissa Haque dan Zumi Zola (Bupati Jambi) bakal berkoalisi dan kolaborasi di Provinsi Jambi melalui Partai Amanat Nasional (PAN). Menurut artis yang baru bergabung di PAN ini, dirinya kemungkinan besar bakal berkoalisi dengan Zumi di Jambi. Wacana koalisi ini muncul begitu saja, saat keduanya menghadiri pernikahan puteri Menhut Zulkifli Hasan beberapa waktu lalu.
Sumber: http://www.rmol.co/read/2012/09/04/76818/KOALISI-MARISSA-ZUMI-
ARI PURWANTO/ISTIMEWA
"Langkah Dua Artis Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) Marissa Haque dan Zumi Zola (Bupati Jambi)"
KOALISI MARISSA-ZUMI

Dua artis alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) Marissa Haque dan Zumi Zola (Bupati Jambi) bakal berkoalisi dan kolaborasi di Provinsi Jambi melalui Partai Amanat Nasional (PAN). Menurut artis yang baru bergabung di PAN ini, dirinya kemungkinan besar bakal berkoalisi dengan Zumi di Jambi. Wacana koalisi ini muncul begitu saja, saat keduanya menghadiri pernikahan puteri Menhut Zulkifli Hasan beberapa waktu lalu.
Sumber: http://www.rmol.co/read/2012/09/04/76818/KOALISI-MARISSA-ZUMI-
ARI PURWANTO/ISTIMEWA
"Langkah Dua Artis Alumni Institut Pertanian Bogor (IPB) Marissa Haque dan Zumi Zola (Bupati Jambi)"
Senin, 27 Agustus 2012
Marissa Haque Fawzi: "Indonesia's Cinematic Art Stumble and Surge"
Indonesia's Cinematic
Art Stumble and Surge
June, 2001
By. Marissa Haque Fawzi
An Indonesia Actress, is in Residence at Ohio University
Indonesia as a country among many countries in the world, cannot escape of the effect of globalization. More specially, the Indonesia film industry is influenced and shaped by the cultures and trends of many other nations. This assimilation necessary and positive for progress and increased quality as long as an individual maintains his/ her own touch, so to speak. This process is guaranteed by the fact that our world grows smaller everyday and the boundaries that once existed are no more.
The father of Indonesia film, Mr. Haji Usmar Ismail, was the first Indonesia artist to graduate from the School of Film at the University of California Los Angles as early as the 1940s. Generations to follow in the 1970’s were strongly predisposed to Russian production style and technique with Indonesian graduate from Moscow University such as Syumandjaja and Amy Priono.
Many artists to follow, Producers and Directors are products of Indonesia education and training. Their work, also distinguished, is colored by local wit and wisdom. A result of their efforts has been “Edutainment” or educational entertainment for the Indonesian citizen.
The only trouble with this is seen in the extremely small ratio of these artists in relation to the population of Indonesia, which far exceeds 200 million. If the love of money is the root of all evil it has also been the demise of the film industry in Indonesia. Many Directors viewed the production of movies as a monetary printing press.
The typical Indonesian film left nothing for the viewing public; there was no moral message and no real meaning. By the end of 1980s the film industry has stagnated and come to screeching halt. The Indonesia government further stifled the industry’s creativity and quality, and the differences from one film to the next became almost impossible to discern. It was a frustrating time for the movie-going public and even exasperating for those production teams that sought to create.
In 1990s gave us Garin Nugroho. As a young man, he graduated from University of Indonesia with a degree in Law and attended Indonesia’s Institut Kesenian Jakarta (Indonesian Art Institute). Garin Nugroho was determined to create new standard, and in the mid-1990s he began work. Nugroho presented an Eastern European style of production. Many Indonesian viewers did not understand this style of production and found the storylines difficult to follow, but his works have been honored (and have placed) at almost every international film festivals in which those have appeared.
Toward the end of 1999, a group of young Indonesian film graduates that, to date, do not wish to be identified with other movie production teams, came together to produce. They represent the new techno generation, seeking something new and different from all who came before them, and it is known to Indonesians today as the movie Kuldesak. This independent production team used a grassroots style marketing strategy throughout production. The film smacks of Quentin Tarantino. The theme song from thia movie was also honored by MTV at the MTV awards 2000 in New York.
The year 2000 was phenomenon for Rivai Riza (Film Director), Mira Lesmana and Triawan Munaf (Co Producers) with their award-winning production Petualangan Sherina or the Adventures of Sherina. The British honored this production with the presentation of the British Chavening Award Scholarship to Riza. This is only logical because Riza finished his Master of Arts in screenwriting at a British Institution in 1999. Riza ia rich with British style.
What do we see in the future of the Indonesian film industry? What style do we hope will prevail? There are so many possibilities, but that which cannot be denied and is clear to even those who would close their eyes is that American films are shown on every channel of Indonesian television and fill Indonesian theatres. In this lies an undeniable answer.
We are also aware that American film is a collection of assimilations from across the world. Thus we come full circle of globalization and interdependent world in which we live. We will, each and every one of us, learn from all of those around us without exception, if we hope to progress. This is a continual process that will go on for as long as we breathe.
Marissa Haque Fawzi: "Indonesia's Cinematic Art Stumble and Surge"
Langganan:
Postingan (Atom)






